Ludruk Garingan Meimura Hadir di Nganjuk, “Sambang Putu” Jadi Panggung Anak-anak
Nganjuknews.com
– Pentas keliling Ludruk Garingan Meimura (Meijono) kali ini berkunjung ke
Nganjuk.
Kegiatan ludruk ini
akan diadakan di Sanggar Rumah Ilalang KSII (Sanggar Ri), Dusun Karangnongko, Desa
Kelutan, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk.
Topik “Sambang Putu”
dipilih dalam pentas kali ini, karena selama ini Sanggar Ilalang intens
mengasuh anak-anak.
Oleh karena itu, dalam
pentas yang akan digelar pada Sabtu 25 April 2026 malam, pentas keliling “Besut
Jajah Deso Milangkori” oleh Meimura ini akan melibatkan anak-anak secara aktif,
bukan hanya diposisikan sebagai penggembira semata.
Dalam kacamata Besut,
sambang putu bukan sekadar adegan keluarga. Ia merupakan filosofi tentang
kesinambungan tentang bagaimana manusia tidak pernah benar-benar selesai karena
terus berlanjut dalam bentuk lain.
Cucu menjadi “suplemen
jiwa”, vitamin batin bagi para kakek dan nenek untuk menyongsong senja tanpa
kehilangan cahaya.
Sambang putu atau
menjenguk cucu bukan sekadar kunjungan keluarga, melainkan perjalanan pulang ke
dalam diri yang pernah muda, pernah keras kepala, dan pernah jatuh cinta pada
hidup tanpa banyak tanya.
Di tubuh seorang cucu,
seorang kakek atau nenek seperti sedang bercermin. Namun, cerminnya hidup
berupa berlari, tertawa, kadang bandel, kadang diam seolah menyimpan rahasia
semesta.
Di situlah masa lalu
tidak lagi menjadi kenangan usang, melainkan hadir kembali dalam bentuk yang
segar, nakal, dan terkadang lebih berani.
Cucu menjadi potret
berlapis, wajah kakek, denyut nenek, jejak anak, serta cerita menantu, semuanya
bertumpuk dalam satu tubuh kecil yang terus tumbuh.
Tak heran jika rindu
kepada cucu kerap terasa lebih kuat daripada rindu kepada anak sendiri. Pada
cuculah, rasa itu bukan hanya tentang kasih, tetapi juga perjumpaan ulang
dengan diri.
Sebuah nostalgia yang
tidak melankolis, melainkan penuh energi baru, seperti menemukan kembali mainan
lama, tetapi dimainkan dengan kesadaran yang lebih dalam.
Ada hal menarik ketika cucu mulai menunjukkan bakat, gerak tubuh yang luwes, cara bicara yang khas, hingga selera jenaka yang tak jauh dari garis leluhur.
Di situlah seorang
kakek atau nenek seolah menyaksikan revolusi kecil yang berlangsung secara
halus, perpindahan jiwa, kesinambungan rasa, serta keberanian untuk terus hidup
melalui generasi berikutnya.
Di Sanggar Ilalang
Nganjuk, episode ini akan hadir bukan sekadar cerita haru. Pementasan akan
dibungkus dengan tawa, parikan, dan sentuhan jenaka khas Besut yang mampu
mengajak penonton menertawakan hidup, bahkan saat waktu perlahan berpamitan.
“Sambang putu adalah
tentang pulang. Tapi bukan ke rumah. Melainkan ke diri yang tak pernah
benar-benar pergi,” ujar Mei.
Sanggar Rumah Ilalang –
Komunitas Seni Ilalang Indonesia didirikan oleh Agus R Subagyo bersama enam
rekannya, yakni Banimal Malabar, Yusuf Syafroni Karim, Masboegi, Chikul
Mahardika, Shinta, dan Mawar Kumala pada tahun 2000.
Agus R Subagyo, yang di
kalangan seniman dikenal sebagai SanRego atau Kang Rego, merupakan penyair
produktif dan pegiat seni, termasuk teater di berbagai kota.
Sanggar dan komunitas
ini kemudian menjadi inspirasi bagi lahirnya banyak komunitas dan sanggar
teater lain, khususnya di Nganjuk, Kediri, dan Malang.
Ia juga kerap tampil
membacakan puisi di berbagai kota. Meski demikian, pria kelahiran Nganjuk, 7
Oktober 1973 ini, sehari-hari berprofesi sebagai petani yang menggarap sawah
dan ladang keluarga, serta menanam padi dan bawang merah di kampungnya.
Kecintaannya terhadap
anak-anak diwujudkan, antara lain, melalui karya buku Buku Ajar Baca Puisi
untuk Anak (2020).
Sebagian besar
anak-anak Rumah Ilalang yang aktif dalam kegiatan puisi masih berada di tingkat
sekolah dasar (SD/MI).
Berbagai kegiatan seni
juga pernah digelar di sanggar tersebut, antara lain Pagelaran Musim Tandur,
Pentas Nglurug Dulur, Nyadran Puisi, serta pagelaran seni yang mencakup puisi,
tari, teater, pantomim, musik, hingga seni lukis.
Pentas keliling “Besut
Jajah Deso Milangkori” oleh Meimura di Nganjuk ini merupakan pementasan
keempat, setelah sebelumnya digelar di Surabaya, Sidoarjo, dan Jombang.
Selanjutnya, pentas akan digelar di Mojokerto pada 7 Mei.
Bersama Dr Autar
Abdillah, SanRego juga akan menjadi narasumber dalam sarasehan yang
diselenggarakan setelah pementasan.
Program ini merupakan bagian dari Pemberdayaan Ruang Publik Dana Indonesiana oleh Kementerian Kebudayaan RI.

