Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Konsep Heuristik Sejarah dan Penerapannya di Era Artificial Intelligence

Ilustrasi peneliti sejarah sedang melakukan langkah-langkah heuristik. Gambar ilustrasi ini dibuat menggunakan kecerdasan buatan chatgpt.com

Nganjuknews.com – Artikel berjudul “The Concept ofHistorical Heuristics and Its Application in the Era of Artificial Intelligence” ini membahas posisi krusial heuristik sebagai fondasi dalam metodologi penelitian sejarah, terutama dalam menghadapi tantangan dan peluang di era Kecerdasan Buatan (AI).

Penulis menggunakan gerakan mesianisme Kiai Dermodjojo di Nganjuk tahun 1907 sebagai studi kasus untuk menunjukkan bagaimana proses pengumpulan sumber dilakukan secara sistematis.

        1.      Konsep Heuristik dan Metodologi

Heuristik didefinisikan sebagai tahap awal untuk menemukan, mengumpulkan, dan mencari sumber sejarah yang relevan.

Tahapan ini dianggap sebagai "batang tubuh" utama penelitian; jika heuristik tidak sempurna, maka tahapan kritik, interpretasi, dan historiografi selanjutnya dipastikan akan mengalami kecacatan.

Penulis membagi langkah-langkah heuristik menjadi tiga bagian utama: eksplorasi, identifikasi, dan klasifikasi.

        2.      Klasifikasi Sumber dalam Kasus Kiai Dermodjojo

Penelitian ini merinci berbagai sumber yang dikumpulkan untuk merekonstruksi peristiwa Geger Dermodjojo:

Sumber Tertulis: Meliputi arsip surat kabar kolonial seperti De locomotief (1907) serta literatur buku dan skripsi terkait.

Sumber Lisan: Meliputi wawancara dengan juru kunci makam di Dusun Bendungan serta keturunan Kiai Dermodjojo.

Sumber Benda (Artefak): Meliputi kompleks makam Kiai Dermodjojo dan jejak fisik rumah beliau di Dusun Bendungan.

Sumber-sumber ini kemudian dikategorikan menjadi sumber primer (seperti berita koran sezaman), sekunder (seperti keterangan keturunan), dan tersier (seperti buku sejarah atau skripsi yang ditulis sejarawan).

        3.      Peran AI dalam Penelitian Sejarah

Artikel ini menyoroti bahwa AI dapat berfungsi sebagai alat bantu yang sangat efisien dalam proses heuristik, seperti mempercepat penelusuran bibliografi, memetakan narasumber lisan, hingga mengidentifikasi artefak.

Namun, penulis memberikan catatan kritis bahwa penggunaan AI membawa risiko bias algoritmik dan persoalan validitas data karena kerentanan manipulasi catatan digital.

Kesimpulan Penulis: Meskipun AI memberikan kemudahan luar biasa dalam pengumpulan data, ia tidak dapat menggantikan peran kritis sejarawan dalam melakukan analisis dan interpretasi tingkat tinggi.

Keseimbangan antara teknologi dan ketelitian peneliti tetap menjadi kunci agar hasil penelitian sejarah tetap kredibel dan ilmiah.

Identitas Artikel:

Judul : The Concept of Historical Heuristics and Its Application in the Era of Artificial Intelligence (Case Study of Kiai Dermodjojo's Messianic Movement in Nganjuk, 1907).

Pengarang : Usman Hadi, Achmad Zuhdi DH, dan Akhmad Najibul Khairi Sya'ie (UIN Sunan Ampel Surabaya).

Tanggal Terbit : 01 Juni 2026

Jenis Tulisan : Prosiding Konferensi Internasional (The 4th ICONITIES: "Exploring Islamic Civilization through Language and Literature: Tracing History and Shaping the Future".

Penyelenggara : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia.

Halaman: 2012 – 2028.

Issue : Vol. 4 (2026): ICONITIES

e-ISSN : 3025-1575

Keterangan Lain : Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik kajian pustaka.

Selengkapnya artikel dapat diakses Di Sini.