Review Geger Dermodjojo: Perlawanan Petani Nganjuk 1907 M
Nganjuknews.com
– Artikel berjudul “Geger Dermodjojo:The Resistance of Nganjuk Farmers In 1907 Ad” yang terbit pada 2 Juni 2026 membahas
secara mendalam mengenai peristiwa Geger Dermodjojo, sebuah gerakan perlawanan
petani yang terjadi di Nganjuk pada Januari 1907 Masehi.
Fokus utama tulisan ini
adalah menganalisis sosok Kiai Dermodjojo, dan dinamika perilaku kolektif
masyarakat pedesaan dalam merespons tekanan pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Latar Belakang
Perlawanan: Penulis menjelaskan bahwa perlawanan Kiai Dermodjojo tidak muncul
secara tiba-tiba, melainkan berakar pada kegelisahan sosial akibat kebijakan
kolonial yang menekan aspek ekonomi, politik, dan budaya masyarakat tradisional.
Perubahan tatanan
sosial, seperti penerapan sistem birokrasi Barat yang menggeser lembaga
tradisional, menciptakan disorganisasi dalam masyarakat pedesaan.
Kepemimpinan dan
Mesianisme Kiai Dermodjojo, seorang petani kaya yang berasal dari Kudus,
memanfaatkan semangat mesianisme untuk memobilisasi massa.
Ia mendeklarasikan
dirinya sebagai Ratu Adil (Praboe Anom) berdasarkan wangsit melalui mimpi.
Mitos Ratu Adil ini
menjadi alat legitimasi yang sangat kuat bagi masyarakat tradisional yang
sedang merindukan datangnya pemimpin yang adil di tengah kesengsaraan kolonial.
Kronologi Peristiwa
Puncak: Ketegangan terjadi pada akhir Januari 1907 di kediaman Kiai Dermodjojo
di Dusun Bendoengan, Desa Barong, District Waroedjajeng, Afdeeling Berbek,
sekarang secara administratif wilayah tersebut masuk Dusun Bendungan, Desa
Kedungrejo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk.
Pertempuran pertama
pada 29 Januari 1907 sempat mengejutkan pemerintah kolonial, karena menewaskan
beberapa pejabat pribumi penting, termasuk Wedono Ngandjoek dan Wedono Berbek.
Namun, gerakan yang
tidak terorganisasi secara modern ini akhirnya dipatahkan oleh kekuatan militer
kolonial pada 30 Januari 1907, yang juga mengakibatkan gugurnya Kiai Dermodjojo.
Kesimpulan Penulis: Penulis
menyimpulkan bahwa Geger Dermodjojo mencerminkan peran signifikan agama dan
mitos lokal sebagai alat perlawanan rakyat.
Meskipun berakhir
dengan kekalahan militer, peristiwa ini menunjukkan bagaimana keresahan sosial
dapat dikonversi menjadi gerakan perlawanan terbuka melalui kepemimpinan
karismatik berbasis religiusitas.
Artikel ini memberikan
kontribusi penting dalam melengkapi narasi sejarah lokal di Jawa Timur yang
sering kali terabaikan dalam historiografi nasional.
Identitas Artikel:
Judul : Geger Dermodjojo:
The Resistance Of Nganjuk Farmers In 1907 Ad
Pengarang : Usman Hadi (UIN Sunan Ampel
Surabaya)
Jenis Tulisan : Prosiding Konferensi
Internasional (The 4th ICONITIES: "Exploring Islamic Civilization through
Language and Literature: Tracing History and Shaping the Future")
Penyelenggara : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN
Sunan Ampel Surabaya, Indonesia
Halaman : 2060 – 2079
Tanggal Terbit : 02 Juni 2026
Issue : Vol. 4 (2026):
ICONITIES
e-ISSN : 3025-1575
Keterangan Lain:
Artikel menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari lima tahap:
pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.
Selengkapnya artikel dapat diakses Di Sini.
