Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dampingi Khofifah, Kang Marhaen Hadiri Peresmian Jembatan Perintis Garuda Genjeng oleh Presiden Prabowo

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bersama stakeholder terkait saat meninjau Jembatan Perintis Garuda di Dusun Genjeng, Kecamatan Loceret, yang diresmikan Presiden RI Prabowo Subianto secara virtual, Kamis (13/8/2026)

Nganjuknews.com – Akses warga di perbatasan Kecamatan Loceret dan Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, kini semakin terbuka.

Jembatan Perintis Garuda di Dusun Genjeng, Kecamatan Loceret, resmi diresmikan Presiden RI Prabowo Subianto secara virtual, Kamis (13/8/2026).

Peresmian tersebut dihadiri Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, bersama Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro, dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Nganjuk.

Mereka mendampingi Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dan Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Rudy Saladin, dari lokasi jembatan.

Kegiatan video conference berlangsung di bibir Jembatan Perintis Garuda, Dusun Genjeng. Sejumlah pejabat dan perwira dari Kodiklatal, Polda Jatim, Kodaeral V, Kejati, hingga Koarmada II turut menyaksikan peresmian tersebut.

Pembangunan jembatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus memangkas kesenjangan infrastruktur dasar di kawasan pedesaan.

Jembatan yang berdiri sekitar 7 meter di atas Sungai Kali Jurog tersebut memiliki panjang 18 meter dan lebar 1,8 meter. Jembatan itu mampu menahan beban hingga 3,5 ton.

Secara strategis, Jembatan Perintis Garuda menghubungkan Dusun Genjeng, Kecamatan Loceret, dengan Dusun Jampes, Kecamatan Pace.

Infrastruktur tersebut sekaligus membuka akses mobilitas bagi masyarakat di 40 desa yang tersebar di dua kecamatan.

Sebanyak 275 kepala keluarga (KK) atau sekitar 635 jiwa menjadi penerima manfaat langsung dari pembangunan jembatan tersebut.

Kehadiran jembatan ini sekaligus mengakhiri ketergantungan warga terhadap jembatan darurat berbahan bambu yang sebelumnya menjadi satu-satunya akses penghubung.

Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan mobilitas, tetapi juga meningkatkan risiko keselamatan warga yang melintas.

Kini, akses warga, termasuk petani yang mengangkut hasil panen dan anak-anak yang berangkat ke sekolah, jauh lebih pendek.

Jarak tempuh yang sebelumnya mencapai sekitar 4 kilometer karena harus memutar atau melambung, kini dapat dipangkas menjadi sekitar 1 kilometer.

Pembangunan infrastruktur tidak berhenti pada jembatan. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan jalan akses sepanjang sekitar 600 meter menuju Desa Jampes.

Pekerjaan tersebut dijadwalkan segera dimulai setelah warga setempat menyelesaikan masa panen jagung di kawasan tersebut.

Dengan terhubungnya jembatan dan akses jalan tersebut, pemerintah berharap mobilitas warga, distribusi hasil pertanian, serta aktivitas ekonomi masyarakat di dua kecamatan semakin lancar.

Jembatan yang sebelumnya hanya menjadi kebutuhan mendesak warga kini menjadi pintu masuk bagi konektivitas dan pergerakan ekonomi kawasan.