Ribuan Warga Nganjuk Padati Kirab Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo 2026
Nganjuknews.com
– Ribuan warga memadati sepanjang jalur kirab budaya dari Kecamatan Berbek hingga
Pendopo Kabupaten Nganjuk, dalam perhelatan Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun
Projo 2026, Sabtu (6/6/2026).
Tradisi tahunan yang
sarat nilai sejarah dan budaya tersebut digelar untuk memperingati perpindahan
ibu kota Kabupaten Nganjuk dari Berbek ke lokasi saat ini, yang berlangsung
pada 6 Juni 1830 pada masa pemerintahan Adipati Sosrokusumo III.
Antusiasme masyarakat
terlihat sejak pagi hari. Berbagai kontingen budaya, barisan pakaian adat,
hingga kereta kencana menjadi daya tarik utama yang memukau ribuan penonton di
sepanjang rute kirab.
Perayaan ini kembali
menegaskan posisinya sebagai salah satu agenda budaya terbesar dan paling
dinantikan masyarakat Anjuk Ladang.
Dalam sambutannya,
Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, menegaskan bahwa peringatan Boyong dan Sedekah
Bumi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan
kembali jati diri daerah melalui pemahaman sejarah dan penguatan nilai
kebersamaan.
Ia menekankan
pentingnya memegang teguh filosofi Jas Merah atau Jangan Sekali-kali Mneinggalkan
Sejarah, sebagai fondasi dalam membangun Kabupaten Nganjuk.
Rangkaian kegiatan
telah dimulai sejak malam sebelumnya melalui prosesi jamasan pusaka daerah di Desa
Kacangan, Kecamatan Berbek.
Dua pusaka yang
dijamas, yakni Payung Kyai Tunggul Wulung dan Tombak Kyai Klinit, menjadi
simbol penghormatan terhadap warisan sejarah Kabupaten Nganjuk.
Pada hari pelaksanaan,
seluruh peserta kirab dan kontingen pawai yang berkumpul di Taman Nyawiji
bergerak bersama menuju pusat pemerintahan kabupaten.
Sepanjang perjalanan,
masyarakat berjejer di sisi jalan untuk menyaksikan arak-arakan budaya yang
menampilkan kekayaan tradisi daerah.
Setibanya di Jalan
Basuki Rahmat, prosesi berlanjut ke Pendopo Kabupaten Nganjuk yang diawali
dengan ritual Buka Lawang.
Selanjutnya, Kang Marhaen,
sapaan karib Marhaen Djumadi, bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah
(Forkopimda) memasuki pendopo dan melaksanakan penancapan pusaka daerah secara
simbolis sebagai bagian dari rangkaian acara sakral.
Kegiatan kemudian
dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan kepada para camat peraih lima gunungan
dan sepuluh tumpeng terbaik.
Penghargaan tersebut
menjadi bentuk apresiasi atas partisipasi dan kreativitas daerah dalam
memeriahkan tradisi Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo.
Suasana khidmat
mencapai puncaknya saat doa selamatan bersama dipanjatkan dengan hidangan Buceng
Kuat dan Jenang Sengkolo.
Usai doa
dikumandangkan, tradisi morak atau rebutan gunungan hasil bumi langsung
disambut antusias masyarakat yang telah menanti sejak awal acara.
Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi sekaligus wujud kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.
